"Ayat Suci dan tradisi bagi Gereja Pertama tak mungkin saling terpisah: kerygma (pesan kabar baik), Ayat Suci dan Tradisi sepenuhnya sama. Gereja mengajarkan kerygma, yang ditemukan secara keseluruhan dalam bentuk tertulis dalam kitab-kitab kanonik. Tradisi tidak dianggap sebagai suatu pelengkap bagi kerygma yang termuat dalam Ayat Suci namun sebagai penyampaian kerygma yang sama dalam bentuk hidup: dengan kata lain semuanya terdapat dalam Ayat Suci dan disaat yang sama semuanya terkandung dalam Tradisi yang hidup". [4]
Cyril dari Yerusalem berpegang pada sola Scriptura
Kenyataan bahwa Gereja awal setia kepada prinsip Ayat Suci semata (sola Scriptura) jelas terlihat lewat karya Cyril dari Yerusalem (uskup dari Yerusalem pada pertengahan abad ke-4). Beliau adalah pengarang apa yang dikenal sebagai Kuliah-kuliah Kateketik (Catechetical Lectures). Karya ini adalah serentetan panjang kuliah yang disampaikan kepada para penganut baru yang menjelaskan secara terperinci doktrin-doktrin prinsip keimanan. Ini adalah penjelasan lengkap tentang keimanan Gereja pada masa ia hidup. Ajarannya sepenuhnya berdasarkan Ayat Suci. Malah tak ada satu pun seruan dari keseluruhan Pengajaran merujuk kepada Tradisi Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Suci.
Ia menyatakan dengan tegas bahwa seandainya ia memberikan suatu ajaran apapun kepada para katekumen ini yang tidak dapat disahkan berdasarkan Ayat Suci, mereka akan menolaknya. Kenyataan ini memperkuat bahwa kekuasaannya sebagai seorang uskup tergantung dari kesetiaannya kepada Ayat-ayat Suci tertulis dalam ajarannya. Kutipan-kutipan berikut adalah beberapa pernyataannya tentang kekuasaan akhir Ayat Suci.
"Tanda ini telah membuatmu berpikir; manakah sekarang berdasarkan ikhtisar yang telah diberkati, dan jika Tuhan mengabulkan, dapatlah kemudian disusun sesuai kekuatan kita, dengan pembuktian Ayat Suci. Mengenai keagungan dan kekudusan Misteri Iman, kita tak dapat mengeluarkan ucapan sesederhana bagaimanapun tanpa Ayat-ayat Suci: ataupun dipengaruhi oleh kemungkinan-kemungkinan belaka dan kecerdikan argumen. Jangan pula kemudian mempercayai saya karena saya memberitahukan kamu hal-hal ini, kecuali kamu menerimanya dari Ayat-ayat Suci bukti dari apa yang tertulis: karena keselamatan ini, yang adalah dari iman kita, bukan lewat alasan-alasan yang berakal, namun dengan bukti dari Ayat-ayat Suci." [5]
"Namun anggaplah dirimu dan pegang iman tersebut seperti halnya seorang yang baru mulai dan dengan pernyataan, yang mana lewat Gereja disampaikan padamu, dan berdasarkan keseluruhan Ayat Suci. Oleh karena semua yang tidak dapat membaca Ayat Suci, beberapa karena kebodohan, yang lainnya karena pekerjaan, menjadi terhalang dari pengetahuan tentang Ayat-ayat Suci; agar jiwa tak mati karena ketiadaan pengajaran, dalam Artikel-artikel yang sedikit ini kita memahami doktrin Iman secara keseluruhan.. Dan untuk sekarang, hafalkan Keimanan, simak saja perkataan-perkataan; dan lihat pada saatnya bukti tentang setiap bagian-bagiannya dari Ayat-ayat Suci yang Agung. Karena Artikel-artikel Keimanan tidak disusun berdasarkan kehendak manusia: namun pokok-pokok yang terpenting dipilih dari semua Ayat-ayat Suci, membentuk satu ajaran tentang Iman. Dan, sebagaimana mustard tersemai dari bebijian kecil memiliki banyak cabang, demikian juga Iman ini, dalam beberapa kata, menyertakan keseluruhan pengetahuan keilahian yang terkandung dalam Perjanjian Lama dan Baru. Lihatlah, oleh karena itu, saudara-saudara dan peganglah tradisi yang kamu terima sekarang, dan tulis semua itu sepenuh hatimu". [6]
Perhatikan tulisan di atas dimana Cyril menyatakan bahwa para katekumen menerima tradisi, dan ia mendorong mereka untuk berpijak kepada tradisi, yang mereka terima sekarang. Dari sumber manakah tradisi ini berasal? Sudah jelas berasal dari Ayat-ayat Suci, ajaran atau tradisi atau wahyu Tuhan, yang dijalankan para Rasul dan disampaikan kepada Gereja, dan yang sekarang dapat di diperoleh hanya lewat Ayat Suci.
Jelas bahwa Cyril dari Yerusalem, yang menyampaikan keseluruhan dari keimanan kepada para penganut baru ini, tidak membuat satu pun seruan terhadap tradisi lisan untuk mendukung ajaran-ajarannya. Keseluruhan keimanan didasarkan pada Ayat Suci dan hanya Ayat Suci saja.
Gregory dari Nyssa berpegang pada sola Scriptura
Gregory dari Nyssa juga menyerukan prinsip ini. Ia mengatakan:
"Manusia secara umum masih berubah-ubah pendapatnya tentang hal ini, dimana kekeliruan mereka sama banyaknya dengan jumlah mereka. Bagi kita sendiri, bila filosofi Gentile (non-Yahudi), yang secara metodologi berhubungan dengan semua pokok-pokok ini, benar-benar memadai untuk suatu peragaan, sudah tentu menjadi sangat berlebihan untuk menambahkan suatu diskusi mengenai kejiwaan pada spekulasi-spekulasi itu. Namun sementara yang terakhir tersebut dilanjutkan, mengenai masalah jiwa, sejauh dalam konsekuensi yang telah diperkirakan yang membuat bahagia sang pemikir, kita tidak memiliki hak dalam perijinannya, maksud saya tentang mensahkan apa yang kita mau kita membuat Ayat-ayat Suci sebagai kendali dan takaran untuk setiap prinsip; kita harus memperhatikan itu, dan dan menyetujui hal itu sendiri yang mungkin dibuat untuk dipadukan dengan maksud tulisan-tulisan itu." [7]
Gereja pertama diselenggarakan berdasarkan sola Scriptura
Kutipan-kutipan di atas benar-benar mewakili bapa-bapa Gereja secara keseluruhan. Cyprian, Origen, Hippolytus, Athanasius, Firmilian, dan Augustine hanyalah sebagian dari antaranya yang dapat dikutip sebagai pendukung prinsip sola Scriptura selain daripada Tertullian, Irenaeus, Cyril dan Gregory dari Nyssa. Gereja pertama beroperasi dengan berlandaskan prinsip sola Scriptura. Prinsip historis inilah yang para Reformis cari untuk dikembalikan ke dalam Gereja. Penggunaan secara luas dari Skriptur oleh para bapa Gereja Pertama sejak permulaan telah terlihat dari fakta-fakta berikut ini:
Irenaeus: Ia mengenal Polycarp yang merupakan murid rasul Yohanes. Ia hidup sekitar tahun 130 hingga 202 AD. Ia mengutip duapuluh empat dari duapuluh tujuh buku-buku Perjanjian Baru, mengambil 1,800 kutipan dari Perjanjian Baru sendiri.
Clement dari Alexandria: Hidup pada tahun 150 hingga 215 AD. Ia mengutip semua Perjanjian Baru, kecuali Filemon, Yakobus dan 2 Petrus. Ia memberikan 2,400 kutipan dari Perjanjian Baru.
Tertullian: Hidup pada tahun 160 hingga 220 AD. Ia menyerahkan 7,200 kutipan Perjanjian Baru.
Origen: Hidup pada tahun 185 sampai 254 AD. Ia menggantikan Clement dari Alexandria di sekolah Kateketik di Alexandria. Ia membuat hampir 18,000 kutipan Perjanjian Baru.
Hingga akhir abad ke 3, hampir keseluruhan Perjanjian Baru dapat di rekonstruksi dari karya-karya Bapa-bapa Gereja.
Kebiasaan dan Praktek sebagai Tradisi Kerasulan Lisan
Adalah benar bahwa Gereja Pertama juga berpegang kepada konsep tradisi bila merujuk kepada kebiasaan dan praktek-praktek gerejawi. Kerap dipercaya bahwa praktek-praktek seperti itu sebenarnya diturunkan para Rasul, walau begitu semua itu tidak dapat begitu saja disahkan dari Ayat Suci. Praktek-praktek ini, bagaimanapun, tidak termasuk doktrin-doktrin keimanan, dan sering bertentangan diantara berbagai segmen Gereja.
Contohnya ditemukan pada awal abad ke 2 di dalam perdebatan tentang waktu perayaan Paskah. Beberapa Gereja di Timur merayakannya pada hari yang berbeda dengan gereja-gereja di Barat, masing-masing menyatakan bahwa praktek mereka diturunkan secara langsung kepada mereka dari para rasul. Ini benar-benar mengakibatkan konflik dengan Uskup Roma yang menuntut para Uskup Timur untuk tunduk kepada praktek gereja Barat. Mereka menolak melakukannya, dengan tegas mempercayai bahwa mereka mengikuti tradisi kerasulan.
Manakah yang benar? Takkan mungkin untuk menentukan yang mana, jika keduanya, adalah benar-benar berasal dari Kerasulan. Adalah menarik, bagaimanapun, melihat bahwa satu dari para pendukung pandangan Timur adalah Polycarp, yang merupakan murid Rasul Yohanes. Ada banyak contoh lainnya mengenai pernyataan senada dalam sejarah Gereja. Hanya karena satu Bapa Gereja tertentu menyatakan bahwa suatu praktek tertentu tersebut adalah berasal dari kerasulan bukan berarti bahwa itu memang sebagaimana adanya. Maksudnya adalah bahwa ia memang mempercayainya. Namun adalah mustahil untuk membuktikan bahwa itu adalah tradisi para Rasul.
Ada banyak praktek yang dilakukan Gereja Awal yang konon bermula dari Kerasulan (dicatat oleh Basil yang Agung), namun tidak dipraktekkan sekarang. Jelaslah oleh karena itu, seruan-seruan senada terhadap Tradisi kerasulan lisan yang merujuk kepada kebiasaan dan praktek-praktek adalah tak memiliki arti.
Seruan Gereja Katolik Roma terhadap Tradisi sebagai suatu kekuasaan adalah tidak sah.
Gereja Katolik Roma menyatakan memiliki suatu Ajaran Kerasulan lisan yang terlepas dari Ayat Suci, dan yang mengikat manusia. Mereka merujuk pada pernyataan Paulus dalam 2 Tesalonika 2:15: "Sebab itu, saudara-saudaraku, berdirilah teguh dan berpeganglah pada tradisi-tradisi yang diajarkan padamu, baik secara lisan maupun secara tertulis".
Roma menegaskan bahwa, berdasarkan ajaran Paulus dalam ayat ini, ajaran sola Scriptura adalah salah, karena ia menyampaikan ajaran-ajaran kepada penduduk Tesalonika secara lisan maupun tertulis. Namun yang menarik dalam penegasan tersebut adalah bahwa para pendukung Roma tidak pernah mendokumentasikan doktrin-doktrin khusus Paulus yang mereka katakan ada pada mereka, dan menurut mereka mengikat manusia. Dari Francis de Sales hingga karya-karya Karl Keating dan Robert Sungenis terdapat ketiadaan yang amat nyata tentang dokumentasi dari doktrin-doktrin khusus yang Rasul Paulus tunjukkan.
Sungenis baru-baru ini mengedit suatu buku sebagai pembelaan bagi ajaran Katolik Roma tentang tradisi yang berjudul Not By Scripture Alone. Karya ini dipuji sebagai suatu sangkalan yang pas terhadap ajaran Protestant tentang sola Scriptura (hanya Ayat Suci). Bukunya terdiri dari 627 halaman.Tak sekalipun dalam buku itu pengarang menjelaskan kandungan doktrinal dari apa yang dianggap sebagai Tradisi kerasulan yang mengikat semua manusia! Bagaimanapun, kita diberitahu bahwa itu ada, bahwa Gereja Katolik Roma memilikinya, dan bahwa kita diikat, oleh karena itu, supaya tunduk pada gereja ini yang memiliki wahyu Tuhan secara utuh dari para Rasul.
Apa yang Sungenis dan pengarang Katolik Roma lainnya gagal untuk menjelaskan, adalah isi dan doktrin-doktrin yang jelas dari apa yang disebut "Tradisi kerasulan". Alasan sederhana bahwa mereka tidak melakukannya adalah karena itu tidak ada. Bila tradisi seperti itu ada dan penting mengapa Cyril dari Yerusalem tidak menyinggungnya dalam Kuliah-kuliah Kateketik (Catechetical Lectures) karyanya?
Kami menantang siapapun untuk mendaftarkan doktrin-doktrin yang dirujuk Paulus dalam 2 Tesalonika 2:15 yang ia katakan ia lakukan secara lisan kepada penduduk Tesalonika. Satu-satunya wahyu khusus yang manusia miliki sekarang dari Tuhan yang disampaikan kepada para Rasul adalah Skriptur Tertulis.
Ini adalah keyakinan dan praktek Gereja pertama. Prinsip ini dianut oleh para Reformis. Mereka mencoba untuk mengembalikan itu kepada Gereja setelah korupsi kedoktrinan masuk lewat pintu tradisi.
Ajaran tentang suatu bagian yang terpisah dari wahyu kerasulan yang dikenal sebagai Tradisi yang adalah lisan sifatnya berkembang bukan dengan Gereja Kristen tapi lebih dengan ajaran Gnostic. Ini adalah usaha kaum Gnostic untuk mendukung kekuasaan mereka dengan memaksakan bahwa Ayat-ayat Suci tidaklah cukup. Mereka menyatakan memiliki wahyu Kerasulan yang utuh karena mereka tidak hanya memiliki wahyu yang tertulis mengenai kerasulan dalam Ayat-ayat Suci tapi juga tradisi lisannya, dan juga, kunci untuk menafsirkan dan memahami wahyu tersebut.
Sebagaimana Para Bapa Gereja awal membantah ajaran tersebut dan menegaskan dengan suatu kepercayaan terbatas terhadap dan seruan kepada Skriptur tertulis, maka kita juga harus.
"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku" Yohanes 10:27.
Apa yang diajarkan Alkitab tentang sola Scriptura (kekuasaan akhir Ayat Suci)? (in English)
Catatan
-
Alexander Roberts and James Donaldson, editors, Ante-Nicene Fathers (Peabody: Hendriksen, 1995) Vol. 1, Irenaeus, "Against Heresies" 3.1.1, p. 414. [atas]
-
Ellen Flessman-van Leer, Tradition and Scripture in the Early Church (Assen: Van Gorcum, 1953) pp. 184, 133, 144. [atas]
-
J. N. D. Kelly, Early Christian Doctrines (San Francisco: Harper & Row, 1978), pp. 42, 46. [atas]
-
Heiko Oberman, The Harvest of Medieval Theology (Cambridge: Harvard University, 1963), p. 366. [atas]
-
A Library of the Fathers of the Holy Catholic Church (Oxford: Parker, 1845), "The Catechetical Lectures of S. Cyril" Lecture 4.17. [atas]
-
Ibid., Lecture 5.12. [atas]
-
Philip Schaff and Henry Wace, editors, Nicene and Post-Nicene Fathers (Peabody: Hendriksen, 1995) Second Series: Volume V, Gregory of Nyssa: Dogmatic Treatises, "On the Soul and the Resurrection", p. 439. [atas]
[ Jika informasi ini berguna, pertimbangkanlah dalam doa untuk memberi sumbangan guna membantu menutupi biaya-biaya agar menjadikan pelayanan yang membangun iman ini tersedia bagi Anda dan keluarga Anda! Sumbangan bersifat tax-deductible (di Amerika). ]
Diterjemahkan oleh: Conny
Pengarang:
William Webster.
Hak Cipta © 1999 Eden Communications, Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang - kecuali sebagaimana dinyatakan pada halaman “Usage and Copyright” terlampir yang memberi kepada pengguna ChristianAnswers.Net, hak untuk menggunakan halaman ini untuk pekerjaan di rumah, kesaksian pribadi, di gereja-gereja maupun sekolah-sekolah.
www.ChristianAnswers.Net/indonesian
Christian Answers Network
PO Box 200
Gilbert AZ 85299 USA